Close

Komitmen Mengandung Fungsi Perekat

Orang yang komit mempunyai kebiasaan dan keberanian mengeluarkan komitmen. Sadar bahwa ia tengah mengaitkan keadaan sekarang dengan keadaan di masa mendatang. Bahkan yang namanya komitmen bisa jadi melemah, sampai-sampai ungkapan religius “Insya Allah” digunakan orang untuk menyatakan “no commitment”.

Kondisi-kondisi yang unpredictable sering membuat hati kita gundah dan berakibat tidak beraninya kita untuk komit apa-apa. Belum lagi bila kita melihat sangat jauh ke depan: “Bagaimana keadaan Indonesia pada tahun 2045?”, “Bagaimana bersaing dengan perusahaan dan sumber daya manusianya yang sudah global?”, sampai dengan pertanyaan, “Bagaimana hubungan dengan pasangan di masa depan?”

Kondisi yang tidak jelas ini sering menyebabkan kita beranggapan bahwa komitmen bisa jadi “senjata makan tuan” karena akan membuat kita berada dalam posisi yang sulit bila tidak memenuhinya.

Pertanyaannya, bisakah kita hidup tanpa komitmen?

Bagi perusahaan yang selalu perlu memikirkan bisnis bukan pada hari ini saja, tapi juga di masa depan, komitmen sangat diperlukan. Kita bisa langsung membedakan antara perusahaan yang pemimpinnya punya komitmen akan apa yang sudah dicanangkan dengan yang tidak. Bahkan, untuk mengetahui pasangan hidup bersama dalam waktu yang lama, diperlukan proses yang dinamakan “nikah” dan disaksikan oleh banyak saksi. Itulah komitmen. Mengandung fungsi perekat didalamnya.

Disadari atau tidak, sebuah komitmen membuat kita bisa dipegang sekaligus mengikat kita pada apa yang sudah direncanakan. Selain merekatkan keadaan sekarang dengan masa depan, komitmen juga merekatkan kita pada orang yang menyaksikan atau diberi janji.

Siapa yang mau berada dalam keadaan “comfort zone” selamanya? Setiap perusahaan pastinya sadar akan adanya keharusan dalam pengembangan dan kompetisi. Apalagi di zaman yang disruptive seperti sekarang ini, di mana keadaan selalu berubah. Yang tidak mengikuti perubahan akan ketinggalan dan akan dilindas oleh yang lebih cepat melaju perkembangannya. Siapapun menyadari bahwa berubah itu berat.

Komitmen pemimpin perusahaanlah yang akan meringankan langkah para karyawannya menuju perbaikan. Dalam keadaan terpuruk, komitmen atasan pada hal yang diyakininyalah yang akan membawa semangat, energi dan gairah karyawan.

Begitu pula komitmen dengan pasangan. Pasangan yang akan mengarungi hidup sampai tua dan mati bersama. Yang bukan lagi berdebat akan perbedaan yang dimiliki satu sama lain, namun sudah bagaimana caranya agar ber-bareng-an menuju pada tujuan yang sama. Satu sama lain saling percaya dan dalam keadaan terpuruk saling menguatkan.

That’s the power of komitmen.

Sebesar-besarnya komitmen, komitmen selalu personal. Seseorang tidak bisa menyatakan komitmen sambil membuang muka. Karena komitmen adalah janji dan keputusan pribadi yang sangat kelihatan dari wajah dan matanya ketika menyatakan walau dibuat dengan mengatasnamakan perusahaan, lembaga, negara ataupun cinta.

Write Your Comment

You may use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>