Close

Rekrutmen Milenial: Tinggalkan Cara-Cara Jadul

Seperti kita ketahui bahwa generasi Milenial yang memiliki ikatan erat dengan dunia digital, diprediksi akan menguasai angkatan kerja di tahun 2020. Dampaknya akan terasa bagi para pencari kerja maupun perusahaan perekrut. Apakah perusahaan Anda ikut “nangkring” dalam jajaran perusahaan yang melakukan rekrutmen Milenial? Yes?

Fenomena ini terutama akan terjadi di negara yang memiliki angkatan kerja muda dalam jumlah yang masif seperti di Indonesia. Setelah memasuki era digital branding, pola dunia kerja pun turut berubah. Yang mungkin mengulik rasa ingin tahu Anda adalah bagaimana sih pola dunia kerja digital branding ini nantinya?

Untuk menjawabnya, mari kita ulik dengan renyah, fakta yang “suprising” dari karakteristik Milenial yang berbeda dan membentuk dunia kerja baru ini. Sudah menjadi rahasia umum bila kaum Milenial hobi berat menggunakan media sosial, tidak saja untuk bergaul namun juga untuk belajar, melakukan riset, serta membangun profil dan digital branding.

Oleh karenanya mereka banyak menemukan karir idaman dengan memanfaatkan platform media sosial. Selain itu dibandingkan dengan generasi sebelumnya genX, Milenial ini lebih aktif mencari pekerjaan baru dan tidak berpangku tangan menunggu kesempatan emas untuk datang.

Mereka juga cenderung melakukan wawancara kerja di beberapa tempat sekaligus. Namun uniknya, sekitar 88 persen Milenial lebih tertarik bekerja di perusahaan kecil. Untuk melihat tren generasi Milenial ini, perusahaan perekrut harus mulai menggunakan strategi baru yang tidak jadul.

Melihat fakta tersebut, apa respon Anda sebagai perekrut? Pelaku rekrutment Milenial, harus lebih kreatif dan aktif dalam menjaring calon terbaik, melalui kanal jejaring sosial dengan membangun digital branding. Jangan ragu untuk membuat perusahaan lebih unik agar para Milenial ini tertarik melamar.

Penciptaan branding yang tepat, menjadi langkah awal yang harus dilakukan agar perekrutan SDM Milenial mendapatkan kandidat yang tepat. Branding ini bisa dimulai dengan memperkenalkan perusahaan pada masyarakat luas.

Brand bisa dikatakan lebih mengarah pada janji, apa yang akan dilakukan oleh perusahaan tersebut. Fungsi branding ini adalah membentuk persepsi pada konsumen.

Brand diperkenalkan kepada kalangan publik dan penciptaannya dimulai dengan fokus pada tujuan yang spesifik. Membuat perusahaan berbeda dari yang lain dan mampu mengomunikasikannya dengan baik. Tahapan yang pertama kali dikejar adalah membangun awareness, image, preference, dan terakhir membantu loyalti.

Lebih jauh lagi dalam perusahaan yang banyak dilirik oleh Milenial, misalnya perusahaan Start Up, branding ini meliputi personal branding, product branding, dan corporate branding.

Media untuk dapat melakukan branding ialah dengan menggunakan advertising, terutama di media sosial. Inilah yang disebut sebagai digital branding.

Selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang maksimal, serta memenangkan persaingan dalam merekrut Sumber Daya Milenial yang mumpuni, kreativitaslah yang semakin dibutuhkan. Strategi rekrutmen memang harus berbeda dari waktu ke waktu, bahkan sistem jadul yang so yesterday harus diubah.

Konsep jadul tanpa kreativitas, sangat tidak direkomendasikan, apalagi di dalam rekrutmen Milenial saat ini, Anda akan berhadapan dengan para Milenial yang memiliki karakteristiknya sendiri. Karakteristik yang hanya akan bisa dimunculkan dengan hal-hal kreatif juga.

Oleh karenanya perusahaan harus berani membuat strateginya sendiri yang viral dan mampu membuat daya tarik bagi para milenial pencari kerja, agar semangat melamar.

Perekrut harus berani tampil beda dengan membuka perusahaannya. Ini karena bagi generasi Milenial, keterbatasan informasi tentang perusahaan menjadi hambatan terbesar untuk pindah pekerjaan.

Lalu apa yang membuat rekrutmen Milenial bisa cetar dengan digital branding yang membahana? Contohnya adalah perusahaan Bir Heineken, melakukan rekruitmen dengan memberikan ide yang sungguh unik.

Pewawancara diskenariokan tiba-tiba jatuh pingsan saat melakukan wawancara. Ini bertujuan untuk mengetahui reaksi dari pelamar yang sedang diwawancarai. Inovasi perekrutan seperti ini selanjutnya diunggah di media sosial, bisa ditebak akibatnya rekrutmen ini menjadi viral.

Nah, inilah yang membedakan rekrutmen jadul dan rekrutmen era digital saat ini. Bagaimana apakah Anda sebagai perekrut siap berkreasi lebih lanjut, dengan memelajari cara baru untuk pencapaian yang lebih amazing?

Write Your Comment

You may use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>