Close

5 Gaya Leadership yang Salah! Apakah Salah Satunya Ada Pada Anda?

Sejarah menggambarkan leader yang “ideal” adalah seseorang yang berani mengambil keputusan dan karismatik. Tapi kenyataannya, ada banyak gaya leadership yang berbeda, tergantung bagaimana dan di mana digunakan. Misalnya, beberapa perusahaan mendapatkan keuntungan dari pemimpin yang berani, vokal dan energik. Sementara yang lain akan mendapatkan keuntungan dari pemimpin yang begitu tenang dan fokus.

Hal ini akan memberikan Anda beberapa pilihan saat Anda tumbuh dalam posisi kepemimpinan anda yang baru. Namun, ada beberapa gaya kepemimpinan yang hampir tidak pernah berhasil:

  1. Reaktif

Setiap keputusan atau tindakan berada pada jalur proaktif dan reaktif. Tindakan proaktif adalah mengambil tindakan sesuai dengan apa yang diduga/dikira sebelum hal lain terjadi, seperti contoh memperingatkan klien bahwa kirimannya mungkin tertunda.

Tindakan reaktif adalah tindakan yang diambil sebagai reaksi terhadap hal lain yang telah terjadi, seperti meminta maaf kepada klien bahwa pengiriman barang terlambat dengan memberikan diskon. Namun, pada umumnya tindakan proaktif lebih baik daripada tindakan reaktif, karena mencegah hal-hal buruk terjadi daripada sekadar mencoba untuk mengurangi hal buruk yang telah terjadi.

Dengan demikian, gaya kepemimpinan reaktif yang dicirikan oleh sikap “biarkan-tunggu-dan lihat”, lambat dalam mengambil keputusan merukapan sikap yang kurang efektif. Sebagai gantinya, cobalah untuk berpikiran maju.

  1. Optimis yang tidak terukur

Optimisme yang sehat bisa menjadi aset bagi sebuah perusahaan. Optimisme biasanya dikaitkan dengan semangat kerja yang lebih tinggi, dan dapat mempengaruhi turnover karyawan yang lebih rendah dan kemungkinan mampu meningkatkan produktivitas karyawan lebih tinggi.

Namun, Sebagai seorang pemimpin Anda perlu mengendalikan optimisme Anda dan tidak membiarkan hal itu mempengaruhi dalam mengambil keputusan. Alasannya, seorang optimis mungkin melihat pilihan yang bagus dengan peluang sukses 45%. Orang seperti itu mungkin mengharapkan kemampuan yang terbaik datang dari karyawannya, bahkan jika riwayat yang lalu telah membuktikan hal itu tidak akan mampu berhasil. Seorang yang optimis mungkin juga percaya insting dibanding dengan data/fakta sepenuhnya.

Jelas, semua posisi ini dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk secara keseluruhan. Singkatnya, optimisme yang mampu menumbangkan pragmatisme dan nalar bisa berbahaya bagi perusahaan Anda.

  1. Too much controlling

Pemimpin harus tetap memegang kendali perusahaan masing-masing setiap saat. Mereka perlu dihormati dan perintah mereka perlu diikuti. Tapi pada saat yang sama, mereka seharusnya tidak mengendalikan setiap aspek bisnis.

Kebanyakan dalam upaya mencapai produktivitas yang lebih tinggi (atau beberapa tujuan lain), para pemimpin mulai mengelola karyawan dengan micromanaging, memperkenalkan peraturan-peraturan baru, dan mengawasi tugas kecil yang dilakukan karyawan. Pendekatan pengendalian yang obsesif ini tentu saja bisa mendapatkan beberapa hasil dalam jangka pendek, tapi jika Anda mempraktikkannya, Anda akan berakhir dengan sangat melelahkan dan akan menyingkirkan karyawan Anda, yang mana Anda sering mengendalikan mereka untuk mendapatkan peluang yang lain.

Anda mempekerjakan anggota tim karena suatu alasan. Anda perlu mempercayai mereka untuk menangani arahan yang Anda berikan kepada mereka. Jika Anda tidak dapat mempercayai mereka, pecat mereka dan temukan orang yang dapat Anda percaya.

 

  1. LDR (Long Distance Relationship)

Terkadang menjadi Bos yang mengendalikan dari jauh tidak buruk. Namun, menjadi bos yang mengendalikan di antara keduanya (pengendalian langsung dan pengendalian jauh) juga buruk. Namun, ada satu titik ketika jarak jauh itu mulai mengganggu semangat, seperti tidak adanya arahan dan peningkatan produktivitas. Karyawan seperti dipaksa menangani banyak tanggung jawab sendiri, namun akan selalu ada saat ketika mereka membutuhkan permintaan penambahan alat, bantuan, atau saran baru untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Jika atasan tidak ada di lapangan untuk mengajukan permintaan tersebut dan hanya memberikan arahan pada di awal saja, maka hal ini akan memperparah keadaan dan karyawan akan kebingungan dalam mengambil tindakan. Jika anda adalah atasan, maka ide bagus apabila anda mau untuk berkomunikasi dengan tim Anda secara teratur, bahkan jika itu hanya sedikit obrolan ringan. Interaksi pribadi secara langsung memudahkan ikatan tim yang lebih kuat dan kolaborasi yang lebih baik.

  1. Atasan Narsis

Anda bisa mengatakan gaya kepemimpinan yang ini buruk dari namanya saja. Gaya kepemimpinan narsisistik berfokus pada diri sendiri dan cenderung berkembang pada orang yang cinta dengan gagasan menjadi seorang pemimpin.
Mereka ingin menjadi sosok yang terlihat (self-centered) dan meraih kemuliaan dengan membuat diri mereka lebih menonjol dan lebih dihormati. Seringkali, mereka melakukan hal tersebut dengan mengambil penghargaan atas prestasi yang didapatkan anggota tim lainnya, atau dengan memaksa anggota tim sendiri dalam upaya untuk membuat dirinya merasa banyak memberikan pengaruh. Mereka mungkin mampu memenangkan banyak perdebatan dan mampu menutup lebih banyak kesempatan terhadap peluang yang ada berkat karisma mereka. Namun, pada akhirnya gaya Leadership ini membuat karyawan merasa terbengkalai, kurang dihargai dan tidak dianggap, yang mana hal ini bisa menurunkan semangat dan produktivitas.

Jadi, contoh di atas adalah lima gaya leadership ekstrem. Sebaliknya, Anda bisa menempa gaya leadership jalan Anda sendiri. Gaya leadership Anda harus berasal dari dalam diri Anda secara alami, memadukan unsur-unsur kepribadian yang melekat pada diri Anda dengan ciri-ciri yang Anda dapatkan dengan dilatih.

Cara terbaik untuk melangkah maju adalah menemukan model leader yang telah sukses, seperti pemimpin bisnis atau politik yang dikenal luas, atau atasan yang telah memberi kesan pada Anda. Belajarlah dan pelajari cara-cara mereka.

Write Your Comment

You may use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>