Close

Tim Kecil, Masuk Cepat, Petik Cepat dan Exit

Selagi diskusi dengan team yang baru kami bentuk untuk melakukan bisnis retail yang hanya untuk tahun 2018 dan 2019 komentar mitra saya membuat saya merenung. Pendapatnya nyleneh namun saya bisa menerima.

Dia adalah mitra saya yang paling mengerti bisnis retail dan kepakarannya adalah “consumer goods”. Sejarahnya dulu, kami di tahun 96 dimana saya memiliki bisnis makanan ringan sejenis chiki/taro. Perusahaan itu di beli oleh group dia, dia sebagai person in charge dan dalam sekejab perusahaan yang hampir tidak menguntungkan saya tersebut di sulapnya . di buat naik value, revenue dan profitnya dalam waktu 3 tahun kinclong banget dan di tahun 1999 saya beli balik dengan nilai 3 kali lipat, sebelum saya jual lagi tahun 2002 dengan nilai lumayan.

Initinya saya sirik bener sama ilmu dia di bisnis retail (waktu itu), akhirnya 4 tahun lalu di masa pensiunnya kita buat usaha bersama. Ini memenuhi salah satau credo bisnis saya, “if you can’t beat them, joint them”. hahaha

Di situlah di tahun 96 awal perkenalan kami. Dia pakar nya deh. Tapi diskusi kali ini bukan tentang bisnis masa lalu, ini bisnis yang saya hanya akan mainkan 2 tahun saja. Team kecil, masuk cepat, petik cepat dan exit.

Dia berkata di awal kalimat yang membuat saya berfikir keras, mas kayaknya “engine” ekonomi Indonesia saat ini sudah “gigi 5” deh.

Kalimat ini lah yang membuat saya menghentikan sejenak diskusi rencana kerja 2018- 2019 selasa lalu di mana kami sedang melakukan hal yang biasa kami lakukan, meeting sambil makan bacang di café tua jalan wijaya.

Saya bertanya, buktinya apa?

Ketika kelas menengah turun kebawah maka komponen C dalam 2 tahun ini sekitar 50 —60% kontribusinya dalam engine ekonomi Indonesia.

(Maaf saya tidak urai teori ekonominya namun kalimat atau istilah seperti begini adalah “bahasa” sehari hari pebisnis, jadi demi tulisannya pendek saya longkapi dulu penjelasan teori dasar ekonominya ya sahabat)

Singkatnya, komponen C adalah consumption (domestic). Saya jawab, o iya? Masak sih? Itu sulit gerak kita di level tersebut, tinggal sikut sana sini. Main di anomaly. Kita hampir zero sum business dong kalo di 60%, makan rakyat yang kalah modal, kalah manajemen, kalah strategi. Yang menang ya yang banyak modal, banyak deket sama kekuasaan. Ah saya masih ngak percaya. Kata saya ber argument.

Begini, dia memulai argumentnya, component I di Indonesia turun drastic, tinggal 20% dari engine ekonomi Indonesia. Kita semua tahu dan gampang bacanya. Cek saja uang di bank, di pakai apa? kebanyakan adalah I yang di bangun oleh BUMN.

Dan kalimat ini mengenai I adalah component investasi. Dan ini memang saya tahu sekali, component ini turun, tetapi saya baru “ngeh” ternyata tinggal 20%. Dan data di bank memang sudah terlihat dari apa yang bank lakukan.

Bank itu ada corpoarate banking, seperti bank mandiri, ada retail banking seperti BRI ada consumer banking seperti BTN atau BNI.

Ternyata kredit corporatenya di Mandiri, turun jauh banget dan semua bahkan semua bank seakan larinya ke consumer banking. Retail banking (pembiayaan UKM) juga turun. Data di bank menunjukan, ya 20% an. Cek saja sendiri kalau sahabat perlu penjelasan. Tanya OJK, tanya direksi bank atau baca laporan keuangan di business Indonesia dalam laporan keuangan tahunan dalam public expose neraca bank akhir tahun. Banyak tuh data.

Saya menjadi sadar posisi sekarang. Sadar bener karena bang Rizal ramli juga pernah bilang bahwa pertumbuhan kredit kita rendah sekali tiap tahunya di bawah 20%. Baru jelas jadinya saya. sisi pakar ekonomi makro membacanya adalah dengan istilah component I, investasi.

Mitra saya melanjutkan, jack ma di china dalam video viral di banyak platform komunikasi, wa, sosmed, youtube sering komentar bahwa untuk mengankat ekonomi china perlu meningkatkan component C domestic consumption. Ya terang saja karena komponen C di cina baru 21%!!!

Masih lebar banget, masih jauh banget, dan itu terjadi karena komponen lain di luar component I yang tinggi yaitu ekport minus importnya besar.

Karena itu jack Ma genjot terus retail market. Bahkan dengan membeli semua platform niaga (internet terutama) juga bisnis cargo di luar china, seperti di Indonesia, di malaysia, di singpura, di Thailand, ini membuktikan bahwa ekpansi dagang ke banyak Negara adalah meningkatkan dua component utama dalam negerinya, yaitu component I dan component Ex-Im.

Investasi “perusahaan” di luar negeri, tercatat di GNP gross national product, bukan di GDP, dan ini banyak jadi focus pemimpin dnia dalam mengembangkan “ekonomi” bangsa yang di pimpinnya.

Kalau GDP adalah seluruh investasi yang ada di suatu Negara yang di catat, walau semua uang orang asing, atau direct investment di catat sebagai “growth” padahal milik asing mungkin yang terbanyak.

Ini yang heran kita kenapa focus di GDP bukan di GNP yang asli milik bangsa. Kata “nation” saat ini memang di abaikan. Tulisan kemarin tentang “nation interest”, “nation threat” mudah-mudahan menambah sadar sisi pandang nasionalisme anak bangsa.

Sekali lagi, jangan salahin siapa-siapa, kapasitas dan kualitas itu ada dalam tindakan dan pikiran seseroang atau pemimpin. Sementara politikus senayan, orang partai, mana sih yang mengerti geopolitik dan geostrategic.

Kita balik ke bisnis retail dan ekonomi saja dulu ya. Darah saya terkadang kalau beginian bicara tentang NKRI yang tidak di perdulikan bisa “buat” tensi naik.

Membeli buka lapak, go jek apapun itu adalah component I GNP naik, jadi juga mingkatnga ex-im. Efeknya menurunkan domestic consumption equation, atau keseimbanganya jadi turun. Karena uang banyak sementara “belanja” di dalam negeri jadi terlihat mengecil atau hanya 21% namun gede banget secara “akumulasi angka”.

Disisi Indonesia 60% itu naik dari 50 an karena turunnya component I. naiknya 10% tadi semu. Karena turunya I. bukan menambah “money supply – uang beredar”, tidak sama sekali. Uang berputar (cash flow) itu component C jumlahnya tetap, walau ‘statistic” nambah jadi terlihat kinclong naik dari 50 ke 60.

Kalau 10 ini di bilang “tumbuh “ya geblek aja, ngakali rakyat namanya.

Kalimat mitra saya ini membuat saya pusing dengan langkah team kecil yang akan saya bangun, saya jadi harus mengatur degub jantung yang mulai berdebar kencang. Bener deh kalau bicara terus nyerempet NKRI darah saya selalu cepat mendidih. Yo wis sebentar kita istirahat dulu ya. Masih panjang nih tulisan geopolitik nyerempet ekonomi nyerempet bisnis seperti biasa. Saya sarapan bubur dulu. Salam..

 

Artikel ini karya dari pa Mardigu Wowiek. Beliau adalah guru saya dan salah satu Triliuner di Indonesia. Pemilik beberapa perusahaan, yang salah satu pipa gas-nya menembus Singapura dan Malaysia. Selain itu beliau juga pendiri Rumah Yatim Indonesia.

 

 

Write Your Comment

You may use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>